Breaking News
Loading...

New Design

Gallery

Post By Leable List

Recent Post

Saturday, October 10, 2020
Ulasan Joker: Are You Kidding Me?

Ulasan Joker: Are You Kidding Me?

Reviewfilm.xyz - Kisah asli penjahat super Todd Phillips yang dibintangi Joaquin Phoenix memicu perdebatan sengit, tetapi tidak cukup menarik untuk diperdebatkan.

Sejak debutnya beberapa minggu lalu di Festival Film Venesia, di mana ia memenangkan hadiah utama, "Joker" karya Todd Phillips telah menimbulkan badai yang cukup besar. Tangan telah diperas tentang potensi film yang seharusnya menginspirasi tindakan kekerasan dalam kehidupan nyata, dan kritik terhadap nihilisme brutal telah ditanggapi dengan serangan balik, termasuk dari Phillips sendiri, yang telah bersuara tentang "paling kiri" dan "Budaya terbangun" dan ancaman lain terhadap kemampuan badut pembunuh untuk menghasilkan uang tanpa gangguan. Sementara itu, pasukan skeptis dan penggemar yang biasa telah siap dengan tuduhan itikad buruk, hipersensitivitas, dan pemikiran kelompok kuasi-fasis.

Kita sekarang berada pada fase siklus argumen ketika pembeli tiket yang sebenarnya memiliki kesempatan untuk melihat apa semua keributan itu, yang berarti sudah waktunya bagi saya untuk mengatakan bagian saya. Dan yang harus saya katakan adalah: Apakah Anda bercanda?

Agar layak diperdebatkan, pertama-tama film harus menarik: film itu harus memiliki, jika bukan sudut pandang yang koheren, setidaknya serangkaian tema yang berhasil dan menggugah pikiran, semacam kontak imajinatif dengan dunia sebagai kami tahu itu. "Joker," slot pada situs Agen Casino Sbobet Terpercaya sebuah latihan kosong dan berkabut dalam gaya tangan kedua dan filosofi kelas dua, tidak memiliki semua itu. Dibatasi oleh gagasan keberaniannya sendiri - seolah-olah ketidaknyamanan yang disengaja adalah bentuk keberanian artistik - film ini ternyata takut pada bayangannya sendiri, atau setidaknya bayangan paling samar dari relevansi aktual apa pun.

Ia bahkan nyaris tidak bekerja dalam batas-batas genrenya sendiri, film buku komik. "Joker" adalah cerita asal penjahat super, yang melibatkan karakter yang resume layar lebarnya sudah mencakup tiga pemenang Oscar (dua untuk peran lain, tapi tetap saja). Tidak sulit untuk melihat daya tariknya. Joker, perwujudan dari anarki murni, dapat dimainkan ringan atau berat, menakutkan atau menyenangkan atau sekaligus. Dia bisa mencibir seperti Jack Nicholson, menggeram seperti Heath Ledger atau… Aku masih tidak yakin apa yang Jared Leto lakukan, tapi sudahlah.

Seperti yang diwujudkan oleh Joaquin Phoenix, dia banyak tertawa - cukup untuk memastikan bahwa tidak ada orang lain yang akan tertawa. Ciri khas dari "Joker" ini adalah kesembronoannya yang serius. Anda mungkin bertanya-tanya bagaimana ini bisa menjadi karya Todd Phillips yang sama yang menyutradarai "The Hangover" dan "Road Trip," yang setidaknya memiliki reputasi sebagai orang yang lucu. Bagian terpintar di sini adalah memilih Robert De Niro sebagai pembawa acara talk-show Carsonesque yang mirip dengan yang dimainkan oleh Jerry Lewis dalam "The King of Comedy" karya Martin Scorsese. Dalam film itu, De Niro adalah penguntit gila, seorang wannabe tanpa bakat yang mengira menghirup udara yang sama dengan idola dan buruannya. Kali ini, dia di kursi besar, memberi makan obsesi selebriti Arthur Fleck.

Itulah alter ego Joker: seorang pria kesepian dan rusak yang menjalani kehidupan hina sebagai badut yang disewa dan tinggal di apartemen menjemukan bersama ibunya (Frances Conroy). Phillips, yang menulis skrip dengan Scott Silver, membawa kita kembali ke masa lalu yang buruk di Kota Gotham, ketika pekerjaan langka, tikus merajalela dan pemogokan sampah mengotori jalanan. Fleck diintimidasi oleh pencuri anak-anak miskin dan orang-orang kaya yang mabuk, terpancing ke titik pembunuhan oleh keburukan dunia. Dia naksir tetangga (Zazie Beetz) yang menurutnya bisa dibalas. Dia menyimpan buku catatan yang penuh dengan bahan stand-up dan memberanikan diri untuk naik ke panggung di malam open-mic klub malam.
Sunday, July 19, 2020
no image

oleh - reviewfilm.xyz

Halo sahabat selamat datang di website reviewfilm.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar oleh - reviewfilm.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Itulah tadi informasi dari poker online mengenai oleh - reviewfilm.xyz dan sekianlah artikel dari kami reviewfilm.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Thursday, July 16, 2020
no image

oleh - reviewfilm.xyz

Halo sahabat selamat datang di website reviewfilm.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar oleh - reviewfilm.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Itulah tadi informasi dari idn poker mengenai oleh - reviewfilm.xyz dan sekianlah artikel dari kami reviewfilm.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Friday, June 26, 2020
no image

Taste of Cherry (1997): Memaknai Hidup yang Absurd oleh - reviewfilm.xyz

Halo sahabat selamat datang di website reviewfilm.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Taste of Cherry (1997): Memaknai Hidup yang Absurd oleh - reviewfilm.xyz, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Dalam Taste of Cherry, Abbas Kiarostami membuat kisah tentang penderitaan manusia dalam keterlemparannya ke dunia. Film ini mengajak kita untuk bersimpati pada tokoh yang berniat mengakhiri hidupnya. Melalui konflik batin si tokoh, pemaknaan mengenai hidup tersingkap.

Taste of Cherry berpusat pada kisah tentang pria yang taklagi muda bernama Badii. Ia berencana mengakhiri hidupnya di daerah lahan industri yang tandus di Iran. Awal adegan dibuka dengan ketekunan Badii mencari seseorang dari dalam mobil yang terus berputar-putar di sekitar daerah tersebut. Sepanjang film, ia membujuk beberapa orang untuk memuluskan niatnya: menguburnya di bukit daerah tandus.

Pertemuan dengan orang-orang asing di daerah tersebut memancing pembicaraan mengenai makna hidup. Badii bertemu dengan prajurit muda, seminaris asal Afghanistan, dan pria berumur yang berprofesi sebagai taksidermis (perajin yang mengawetkan hewan sehingga tampak hidup). Dalam percakapan satu per satu di dalam mobil dengan masing-masing orang asing itu, Badii menyatakan bahwa ia telat bulat hati untuk melakukan aksi “bunuh diri”. Ia menyampaikan niatnya tersebut tidak secara langsung, tetapi dengan perlahan-lahan.

Bagi orang-orang yang ditemuinya, keinginan Badii memukul telak nilai moral mereka. Meski dengan iming-iming imbalan uang yang tidak sedikit, ada nilai moral yang teramat berat untuk dilanggar, yaitu membantu seseorang untuk mengakhiri hidup. Seolah muncul dilema, ada rasa tidak melarang karena menghargai hak Badii, tetapi tidak menganjurkan sebab melanggar nilai etis.

Dalam pengisahan, Kiarostami terkesan menyajikannya dengan datar sebab takada dramatisasi yang berlebihan. Kiarostami menggambarkan kisah ini tidak secara fantastis, tetapi realis. Tidak ditemukan kilas balik masalah yang membuat tokoh utama ingin mengakhiri hidup ataupun ledakan emosi yang hebat. Bahkan, takada adegan masa lalu yang membuat tokoh utama “terbentur-bentur” dengan masalahnya. Dapat dikatakan bahwa Abbas menggambarkannya dengan potret kenyataan.

Hal yang dirasakan Badii ialah probem kenyataan sehari-hari manusia dalam keberadaanya. Badii merasa bahwa kehidupan amatlah absurd. Ia takmenemui makna dalam keterlemparannya ke dunia. Satu-satunya cara yang menurutnya tepat untuk keluar dari kehidupan yang serbaabsrud ini, yaitu  mengakhiri hidup. Di tengah gelombang masalah eksistensial, Badii merasa perlu menentukan waktu ajalnya sendiri daripada hanya berserah hingga ajal menemuinya.

Mengecap Rasa Ceri

Saat berdialog dengan seminaris, Badii memintanya untuk tidak menceramahinya dan memberi saran. Ia menganggap orang-orang memang mampu bersimpati, tetapi tidak akan pernah bisa merasakan seluruh pengalaman eksistensial yang ia alami. Alhasil, ajaran pantas dan takpantas taklagi membuatnya merasa bersalah. Ia menegasikan nilai tersebut.

Dalam percobaan kesekian, ia bertemu dengan pria tua yang belakangan ia ketahui sebagai taksidermis. Lelaki itu coba bersimpati dan memahami Badii. Ia mengaku pernah di posisi Badii, yaitu pernah melalukan upaya bunuh diri. Upayanya berkali-kali gagal. Kemudian, singkat cerita, ia merasakan lezatnya buah ceri saat sedang melakukan upaya mengakhiri hidupnya. Pengalaman indrawi ini yang membuat taksdermis tersebut memiliki elan hidup.

Dengan kisah itu, Kiarostami menebalkan gagasan bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki pemaknaan yang bervariasi mengenai hidup. Beragam makna hidup tersebut, misalnya, ialah untuk menebarkan kebaikan, menjalani semua penderitaan, dan untuk hal lainnya yang takpernah terpikirkan orang lain. Sementara itu, tindakan memaknai bahwa hidup ini takbermakna ialah jenis pemaknaan lainnya.

Pemaknaan tersebut yang membuat manusia tetap menjalankan rutinitas hidup yang terbilang absurd, layaknya kisah mahsyur Sisifus dalam mitologi Yunani. Absurditas ini memaksa kita untuk merenung dan memaknai hidup secara kontinu, sekaligus memahami kembali keterlemparan manusia di dunia yang serbamembingungkan ini.

Akhirnya, melalui Taste of Cherry, sutradara asal Iran ini mampu menyingkapkan bahwa manusia mengalami masalah eksistensial dalam hidupnya yang serbamisteri ini. Sebuah pengalaman otentik yang takmampu secara objektif dipahami orang lain. Hal ini membuat manusia terus mereproduksi pemaknaanya terhadap kehidupan.

Infografik Taste of Cherry (1997) - Memaknai Hidup yang Absurd oleh ulasinema

Baca juga: Anomalisa: Rutinitas Menjelma Manekin dan Sindrom Fregoli

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah

Itulah tadi informasi mengenai Taste of Cherry (1997): Memaknai Hidup yang Absurd oleh - reviewfilm.xyz dan sekianlah artikel dari kami reviewfilm.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Main Post

Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2017 reviewfilmxyz : Ulasan Tentang Film Terkini All Right Reserved